Agustin Diastuti Kupas Tuntas Masalah Psikososial Remaja: Gadget Bisa Jadi Teman, Tapi Juga Bisa Jadi Jerat

Lubuklinggau — Pemaparan materi kedua dalam Seminar Pendidikan FKMT Lubuklinggau Barat I menghadirkan narasumber yang telah lama berkecimpung dalam dunia kesehatan, keperawatan komunitas, dan pendampingan remaja, yaitu Hj. Agustin Diastuti, M.Kep. Moderator Dwi Noviana Komsi, M.Pd membuka sesi ini dengan memperkenalkan Agustin sebagai sosok yang memiliki perhatian besar terhadap perkembangan psikologis remaja, terutama di tengah pesatnya arus teknologi dan gaya hidup digital. Sebuah perkenalan yang langsung membuat para peserta menaruh antusiasme tinggi untuk mendengarkan materi yang akan disampaikan.

Agustin mengawali pemaparannya dengan gambaran umum mengenai kondisi remaja masa kini yang hidup berdampingan dengan gadget sejak bangun tidur sampai kembali tidur. Ia menyebut remaja sebagai kelompok yang paling rentan mengalami masalah psikososial karena berada pada fase pencarian jati diri, emosinya labil, dan interaksi sosialnya sangat dipengaruhi dunia maya. “Remaja sekarang bukan hanya bertemu dunia nyata, tetapi juga dunia digital yang tidak punya batas waktu dan batas ruang,” ucapnya.

Salah satu masalah terbesar yang disorot adalah kecanduan game online. Agustin menjelaskan bahwa remaja usia 14–19 tahun adalah kelompok dengan persentase tertinggi mengalami kecanduan game. Gejalanya pun khas: sulit berhenti bermain, mudah marah ketika diingatkan, menarik diri dari pergaulan, hilangnya minat terhadap kegiatan fisik, hingga terganggunya pola tidur. Ia menegaskan bahwa kecanduan game bukan sekadar hobi yang berlebihan, tetapi dapat berubah menjadi gangguan perilaku yang berdampak pada hubungan sosial dan prestasi anak.

Selain game, Agustin menyoroti penggunaan smartphone yang berlebihan. Berdasarkan data yang ia paparkan, remaja adalah kelompok yang paling berisiko mengalami ketergantungan gawai karena kontrol diri mereka masih berkembang. Ia memaparkan bahwa remaja yang kurang pengawasan, terutama yang orang tuanya bekerja seharian, lebih mudah menghabiskan waktu dengan gadget tanpa aturan yang jelas. Dampaknya bisa berupa kecemasan, depresi, perbandingan sosial yang tak sehat, hingga menurunnya kepuasan diri.

“Banyak orang tua beranggapan anak diam di rumah sambil main HP itu aman. Padahal sebenarnya mereka bisa saja sedang berada di ruang digital yang berbahaya,” jelas Agustin. Pernyataan ini membuat beberapa peserta saling pandang, seolah menyadari bahwa anak-anak mereka pun mengalami kondisi serupa.

Masalah berikutnya yang tak kalah genting adalah paparan pornografi di internet. Dengan bahasa lugas namun tetap menjaga etika, Agustin menerangkan bahwa pornografi kini menjadi ancaman terbesar remaja karena aksesnya sangat mudah dan tersebar di berbagai platform. Ia menyebut faktor-faktor yang menyebabkan remaja terpapar pornografi: rasa ingin tahu, kurangnya pendidikan seks di rumah dan sekolah, minimnya pengawasan, hingga iklan-iklan tidak senonoh yang muncul tiba-tiba di layar gawai.

Agustin menggambarkan bagaimana paparan pornografi yang terus menerus dapat merusak pusat kendali otak, menurunkan kemampuan berpikir, dan membuat remaja sulit mengendalikan emosi. Ia juga memaparkan beberapa kasus kekerasan seksual yang dilakukan anak di bawah umur karena meniru apa yang mereka lihat. Penjelasan ini membuat suasana seminar sejenak hening—sebuah tanda bahwa materi telah menyentuh ruang kesadaran para ibu.

Tak berhenti di situ, Agustin juga mengangkat isu kecanduan NAPZA, sebuah masalah yang mulai merambah generasi muda bahkan pada usia sekolah. Ia menekankan bahwa pencegahannya membutuhkan kolaborasi kuat antara keluarga, sekolah, dan lingkungan. Orang tua harus peka terhadap perubahan sikap anak, sementara sekolah perlu memberikan pendidikan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba serta bekerja sama dengan lembaga terkait seperti BNN dan Puskesmas.

Sesi berlangsung sangat hidup karena Agustin menyampaikan materi dengan gaya yang mudah dipahami, banyak memberikan contoh nyata, serta menekankan solusi sederhana yang dapat langsung diterapkan di rumah. Ia menyarankan orang tua membuat aturan penggunaan gadget, menyediakan aktivitas alternatif yang menyenangkan, menempatkan komputer di ruang keluarga, menggunakan aplikasi filter internet, dan menciptakan komunikasi yang terbuka serta penuh kepercayaan.

Moderator kemudian memberikan kesimpulan yang merangkum seluruh inti materi dengan bahasa yang lembut namun sangat mengena. Ia menyampaikan bahwa masalah psikososial remaja di era digital bukan hanya persoalan anak, tetapi persoalan keluarga secara keseluruhan. “Gadget bukan musuh, tetapi jika tidak diarahkan, ia bisa menjadi jerat yang mencengkeram masa depan anak. Maka komunikasi, pengawasan, dan kedekatan adalah kunci utama,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa remaja membutuhkan figur orang tua yang hadir secara emosional, bukan hanya hadir secara fisik. Ia mengajak para ibu untuk tidak takut berdiskusi dengan anak tentang masalah teknologi, pergaulan, maupun seksualitas dengan cara yang santun dan menenangkan. “Pencegahan dimulai dari keberanian kita membuka percakapan,” tuturnya.

Pemaparan Agustin ditutup dengan tepuk tangan panjang dari peserta. Banyak ibu yang mengaku mendapatkan pemahaman baru tentang bagaimana dunia digital mempengaruhi perilaku anak, serta langkah-langkah praktis untuk melindungi mereka. Materi kedua ini tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga membangun kesadaran bahwa tantangan remaja hari ini lebih kompleks dibandingkan masa lalu dan karenanya, peran ibu harus lebih bijaksana dan penuh perhatian.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top