Saddam Husin Ajak Ibu Bangkit Jadi Pelindung Utama Anak dari Kekerasan: Komunikasi adalah Tameng Pertama

Lubuklinggau — Materi pertama pada Seminar Pendidikan FKMT Lubuklinggau Barat I menghadirkan narasumber muda yang dikenal aktif dalam dunia pendidikan dan isu perlindungan anak, Saddam Husin, S.Pd., Gr. Sesi ini dipandu oleh moderator Jannatun Aini, M.Pd., yang membuka pemaparan dengan memperkenalkan sosok Saddam secara singkat—seorang guru, pegiat pendidikan, dan Wakil Ketua AKAN yang selama ini banyak berkecimpung dalam pendampingan remaja dan isu kekerasan pada anak. Dengan pengalaman di dunia sekolah dan organisasi, Saddam dianggap sebagai sosok yang memahami langsung dinamika perilaku anak serta tantangan yang dihadapi orang tua saat ini.

Setelah memperkenalkan profilnya, moderator mempersilakan Saddam menyampaikan materi, dan sejak awal penjelasan, para peserta langsung disuguhkan dengan kenyataan bahwa kekerasan terhadap anak bukan lagi isu yang “jauh di luar sana”, tetapi ada sangat dekat di sekitar keluarga.

Saddam membuka paparannya dengan menegaskan bahwa kekerasan pada anak tidak hanya berupa tindakan fisik. Ada kekerasan verbal, psikologis, bahkan seksual, termasuk yang terjadi melalui dunia digital. Menurutnya, kekerasan adalah setiap tindakan yang membuat anak terluka, takut, tersudut, atau merasa tidak nyaman—baik dilakukan secara langsung maupun melalui media. Saddam menggambarkan fenomena ini dengan contoh-contoh sederhana yang sering terjadi di sekolah maupun lingkungan pertemanan: seorang anak dipanggil “gendut”, foto pribadi seorang siswa disebarkan di grup kelas, senior meminta uang dengan ancaman, hingga hukuman guru yang mempermalukan anak di depan umum. Tanpa disadari, tindakan-tindakan tersebut telah melukai harga diri anak dan bisa meninggalkan trauma panjang.

Ia juga menjelaskan bahwa kekerasan tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi lebih berbahaya di sisi emosional. Anak yang mengalami kekerasan umumnya menunjukkan perubahan perilaku seperti mudah marah, menarik diri, agresif terhadap saudara, atau kehilangan minat pada kegiatan yang disukainya. “Kalau anak berubah tiba-tiba, jangan buru-buru dimarahi. Itu bisa jadi tanda awal mereka tidak baik-baik saja,” ujar Saddam, dengan nada tegas namun penuh empati. Dari pengalamannya sebagai pendidik dan pembina siswa, ia mengungkap bahwa banyak kasus kekerasan baru terungkap setelah orang tua mulai peka membaca tanda-tandanya.

Saddam kemudian mengajak para ibu memperkuat tiga pilar utama dalam mencegah kekerasan pada anak. Pilar pertama adalah komunikasi. Menurutnya, rumah harus menjadi tempat paling aman bagi anak untuk bercerita, bukan ruang yang menakutkan atau penuh tekanan. “Ibu itu benteng pertama. Kalau anak tidak mau bercerita di rumah, berarti ada yang perlu kita perbaiki dari caranya berkomunikasi,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa komunikasi tidak harus panjang atau serius, tetapi harus hadir setiap hari dalam bentuk perhatian kecil, sapaan, atau pertanyaan ringan yang membuat anak merasa dihargai.

Pilar kedua adalah kepercayaan dan kedekatan emosional. Saddam menekankan bahwa pengawasan bukan berarti mencurigai anak, tetapi menemani dengan penuh kehangatan. Anak yang merasa dipercaya akan lebih terbuka dan lebih mudah diarahkan. Sebaliknya, anak yang tumbuh dalam tekanan dan kecurigaan cenderung menyembunyikan masalahnya.

Pilar ketiga adalah kolaborasi antara orang tua dan sekolah. Menurut Saddam, kekerasan di sekolah sering kali tidak terpantau karena kurangnya komunikasi dua arah. Ia mengajak orang tua untuk menjalin hubungan yang baik dengan guru, aktif mengikuti informasi dari sekolah, serta tidak ragu berkonsultasi ketika ada perubahan perilaku yang mencurigakan. “Sekolah bukan tempat menitipkan anak, tetapi tempat kerja sama membentuk karakter,” ungkapnya.

Saddam juga menyinggung kekerasan digital, sebuah fenomena baru yang kini semakin mengkhawatirkan. Ia menjelaskan bahwa anak dapat mengalami cyberbullying tanpa meninggalkan ruang kamar. Bahkan dengan satu komentar jahat di media sosial, harga diri anak bisa runtuh dalam hitungan detik. Karena itu, ia mengajak orang tua untuk aktif mengawasi penggunaan gawai, berdiskusi mengenai etika digital, dan memberikan batasan waktu yang sehat.

Peserta tampak sangat antusias mengikuti materi ini. Beberapa ibu terlihat saling berbisik, saling mengingat pengalaman anak mereka yang pernah mengeluh dibully atau dipermalukan temannya. Tidak sedikit pula yang mulai memahami bahwa perilaku anak di rumah yang mudah marah atau pendiam bukan sekadar “nakal” atau “manja”, tetapi mungkin merupakan dampak dari situasi yang tidak pernah mereka ceritakan.

Di akhir sesi, moderator memberikan kesimpulan yang merangkum esensi materi Saddam dengan bahasa lembut namun penuh kekuatan. Ia menekankan bahwa pencegahan kekerasan pada anak dimulai dari rumah yang penuh kasih dan komunikasi yang terbuka. Menurut Jannah, anak membutuhkan ruang aman untuk tumbuh, bukan hanya ruang yang menyediakan makan dan pakaian. “Anak tidak menuntut kita menjadi ibu yang sempurna. Mereka hanya butuh ibu yang mau mendengarkan dan hadir. Ketika rumah hangat, anak akan kuat menghadapi dunia luar,” ujarnya. Moderator juga mengingatkan bahwa orang tua tidak boleh menunggu masalah besar muncul. Deteksi dini dan kedekatan emosional adalah kunci untuk mencegah berbagai bentuk kekerasan yang dapat mengancam masa depan generasi muda.

Materi Saddam ditutup dengan tepuk tangan meriah dari peserta seminar. Banyak ibu yang mengaku mendapatkan pemahaman baru tentang bagaimana cara melindungi anak, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara mental dan emosional. Seminar pun berlanjut dengan sesi berikutnya, membawa semangat baru bagi para ibu untuk menjadi pelindung utama bagi anak-anak mereka.

2 komentar untuk “Saddam Husin Ajak Ibu Bangkit Jadi Pelindung Utama Anak dari Kekerasan: Komunikasi adalah Tameng Pertama”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top