
Lubuklinggau — Sesi terakhir dalam Seminar Pendidikan FKMT Lubuklinggau Barat I menghadirkan pemateri ketiga, Fathul Mundhari, S.Pd., Gr., AAP., seorang pendidik muda yang dikenal aktif dalam gerakan perlindungan anak dan saat ini dipercaya sebagai Ketua Asosiasi Kemajuan Anak Negeri (AKAN). Moderator Dwi Noviana Komsi, M.Pd., mengawali sesi dengan memperkenalkan sosok Fathul sebagai figur yang telah lama berkecimpung dalam pembinaan pemuda dan penguatan karakter remaja di berbagai komunitas pendidikan. Dengan pengalaman memimpin AKAN serta kedekatannya dengan dunia remaja, Fathul dipandang sebagai sosok yang tepat untuk membahas tema penting: “Peran Orang Tua dalam Mencegah Pergaulan Bebas.”
Setelah perkenalan, Fathul memulai pemaparan dengan sebuah kalimat yang langsung menarik perhatian peserta: “Pergaulan bebas tidak muncul tiba-tiba. Ia tumbuh dari celah kecil dalam pengawasan dan komunikasi keluarga.” Kalimat tersebut membuat para ibu yang hadir langsung menyimak lebih dekat, menyadari bahwa pergaulan bebas bukan sekadar isu luar, tetapi bisa terjadi tanpa disadari dalam kehidupan sehari-hari anak.
Fathul menjelaskan bahwa remaja masa kini hidup dalam zaman yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka dihadapkan pada kebebasan informasi, lingkungan sosial yang lebih terbuka, serta kemudahan akses terhadap konten negatif melalui internet dan media sosial. Menurutnya, perubahan gaya hidup inilah yang membuat peran keluarga semakin penting dan tidak bisa lagi bersifat pasif. “Kalau dulu anak bisa diawasi hanya dari jendela rumah, sekarang kita harus mengawasi jendela digital yang terbuka 24 jam,” ujarnya.
Ia lalu memperinci berbagai faktor yang membuat remaja rentan terjerumus dalam pergaulan bebas, seperti kurangnya perhatian di rumah, pengaruh teman sebaya, paparan konten dewasa, serta rasa ingin tahu yang tidak terarah. Fathul menegaskan bahwa tidak ada remaja yang “tiba-tiba nakal”. Semua berawal dari komunikasi yang merenggang, sikap orang tua yang terlalu sibuk, atau keluarga yang kurang menjadi tempat curhat bagi anak.

Dalam materi presentasinya, Fathul menyampaikan bahwa komunikasi aktif adalah pondasi pertama untuk melindungi anak dari penyimpangan pergaulan. Ia mendorong para ibu untuk menciptakan suasana rumah yang ramah terhadap cerita dan keluhan anak, tanpa menghakimi. Baginya, ketika anak berani bercerita, saat itulah orang tua memiliki kesempatan untuk mengarahkan. “Kalau anak lebih nyaman cerita ke teman atau media sosial, di situlah kita kalah sebagai orang tua,” katanya tegas.
Selain komunikasi, Fathul menekankan pentingnya pengawasan yang berbasis kasih sayang, bukan pengawasan yang penuh kecurigaan. Pengawasan seperti ini bukan berarti mengurung atau membatasi secara berlebihan, melainkan hadir setiap hari dalam kehidupan anak: mengetahui siapa teman dekatnya, kemana ia pergi sepulang sekolah, sampai apa yang sedang ia hadapi di sekolah. Menurutnya, kehadiran orang tua dalam kegiatan sehari-hari anak jauh lebih efektif dibanding sekadar larangan dan ancaman.
Tidak lupa, Fathul juga menekankan bahwa nilai agama adalah pedoman terbaik untuk membangun karakter remaja agar tidak mudah terbawa arus negatif. Ia mengaitkan prinsip-prinsip pendidikan Islam dengan peran keluarga dalam membentuk anak yang mampu mengontrol diri dan membedakan mana yang benar dan mana yang salah. “Agama itu bukan hanya pelajaran, tetapi cahaya yang menuntun anak di luar rumah,” tuturnya.
Pemaparan Fathul berlangsung sangat komunikatif dan penuh kedekatan emosional. Beberapa peserta tampak menyeka mata ketika Fathul mengingatkan bahwa banyak remaja terjerumus bukan karena mereka ingin, tetapi karena mereka tidak punya tempat pulang yang cukup hangat. Ia memotivasi para ibu untuk menjadi tempat pulang itu—tempat yang dipenuhi cinta, perhatian, dan bimbingan yang menenangkan.

Di akhir sesi, moderator memberikan rangkuman yang membungkus dengan indah seluruh pemaparan Fathul. Ia menyampaikan bahwa inti dari materi ini adalah menjadikan keluarga sebagai benteng terakhir dan terkuat bagi anak. Menurut Jannatun, komunikasi, keteladanan, dan kehadiran emosional orang tua merupakan kunci untuk mencegah perilaku berisiko pada remaja.
“Pergaulan bebas bukan hanya soal larangan, tetapi soal bagaimana kita menghadirkan cinta di rumah,” ujar Jannatun dalam penutupnya. Ia menambahkan bahwa orang tua harus menjadi sahabat bagi anak agar mereka tidak mencari pelarian di luar rumah.
Peserta menyambut akhir sesi ini dengan tepuk tangan panjang. Banyak yang mengaku materi Fathul memberikan mereka wake up call tentang pentingnya membangun hubungan yang sehat dengan anak, terutama pada masa remaja. Dengan berakhirnya materi ketiga ini, seluruh rangkaian seminar terasa lengkap, memberikan bekal pengetahuan yang menyeluruh bagi para ibu untuk menjaga, membimbing, dan mengarahkan generasi muda agar tetap berada pada jalan yang benar.
