
Lubuklinggau, 5 Februari 2026, Wakil Ketua AKAN, Saddam Husin, S.Pd.Gr, menghadiri kegiatan Sosialisasi Pencegahan Kekerasan dan Radikalisme Intoleransi Terhadap Anak yang diselenggarakan oleh Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Provinsi Sumatera Selatan di SMK Negeri 2 Kota Lubuklinggau.

Kegiatan ini diikuti oleh siswa dan guru SMA/SMK dari wilayah Musi Rawas, Musi Rawas Utara (Muratara), dan Kota Lubuklinggau. Sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman serta penguatan kepada peserta didik dan tenaga pendidik mengenai pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, ramah anak, serta bebas dari segala bentuk kekerasan, radikalisme, dan sikap intoleransi.
Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut perwakilan dari KPAD Provinsi Sumatera Selatan serta Sat Intelkam Polres Lubuklinggau. Para pemateri menyampaikan materi seputar pengertian dan jenis-jenis kekerasan terhadap anak, meliputi kekerasan fisik, emosional, dan seksual. Selain itu, dibahas pula fenomena bullying yang kerap terjadi di lingkungan sekolah, baik dalam bentuk verbal, fisik, sosial, maupun cyber bullying.

Dalam pemaparannya, narasumber menekankan bahwa berbagai bentuk kekerasan dan perundungan dapat memberikan dampak serius terhadap kondisi fisik, emosional, dan perkembangan kognitif anak. Kekerasan tidak hanya menimbulkan luka secara fisik, tetapi juga berpotensi menyebabkan gangguan psikologis, menurunnya rasa percaya diri, hingga terganggunya proses belajar siswa. Oleh karena itu, upaya pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh melalui peran keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial.

Sesi sosialisasi berlangsung secara interaktif dan komunikatif. Para peserta tampak aktif mengikuti rangkaian kegiatan, mulai dari pemaparan materi hingga sesi diskusi. Dalam forum tersebut, Wakil Ketua AKAN, Saddam Husin, S.Pd.Gr, turut berpartisipasi dengan menyampaikan pandangan dan mengangkat sejumlah hal yang berkaitan dengan peran lingkungan pendidikan dalam mencegah kekerasan serta menumbuhkan sikap saling menghargai di tengah keberagaman. Diskusi yang berlangsung menunjukkan adanya kepedulian bersama terhadap pentingnya menciptakan ruang sekolah yang aman dan inklusif bagi seluruh peserta didik.

Selain membahas pencegahan kekerasan, kegiatan ini juga menyoroti bahaya radikalisme dan intoleransi di kalangan pelajar. Peserta diajak untuk memahami pentingnya menjaga nilai kebhinekaan, menghormati perbedaan, serta menolak segala bentuk kekerasan dan ujaran kebencian, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, diharapkan siswa dan guru memiliki bekal pengetahuan serta kesadaran untuk berperan aktif dalam mencegah kekerasan dan membangun budaya sekolah yang positif. Sekolah diharapkan menjadi ruang yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal, baik secara akademik maupun sosial.
Sebagai bentuk komitmen terhadap perlindungan anak dan nilai kemanusiaan, AKAN mengajak seluruh elemen masyarakat, orang tua, pendidik, pelajar, dan komunitas untuk bersama-sama berperan aktif dalam upaya pencegahan kekerasan dan penolakan terhadap sikap intoleransi. Kepedulian, keberanian untuk bersuara, serta kolaborasi lintas pihak menjadi kunci dalam menjaga masa depan generasi muda yang aman, berkarakter, dan berkeadaban.

